Akhirnya sampailah ia di depan pendaftaran ulang mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Radin Intan Lampung. Raut wajah yang sedari tadi kusam dan jelek, langsung berubah menjadi senyuman yang lebar dan kegirangan.
“Ini Pak uang pembayaran UKT-nya.” diserahkan uang yang ada di dalam tas kepada petugas ditempat.
“Iya, ini tanda bukti pembayarannya nak, perkuliahannya akan dimulai hari senin. Jangan lupa untuk hadir”. Sahut Bapak yang ada di depannya.
“Iya Pak, terima kasih atas informasinya. Kalau begitu Saya permisi Pak. Assalamu’alaikum.” ia pamit sebelum keluar dari ruangan tersebut.
“Wa’alaikum salam”. Sahut serentak dari petugas penjaga pendaftaran.
Sekarang statusnya sah sebagai mahasiswi di salah satu Universitas Islam ternama di Lampung, dia memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Fakultas Tarbiyah. Sebuah kebanggan karena sebagai anak kampung yang terpelesok bisa menyandang status sebagai mahasiswa.
Lalu tibalah saatnya perkuliahan dimulai, entah kondisi apa yang sedang dirasakan, perasaannya begitu gugup. "Hatiku hari ini sangat gugup dan bahagia, hari dimana aku akan mendapatkan teman baru dan mata kuliah serta hal-hal baru lain yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh ku" ucapnya dalam hati.
“Assalamualaikum, Hay semuanya.” Dengan wajah yang kaku dan bingung memberanikan diri untuk mengucapkan salam di balik pintu kelas.
“Wa’alaikumsalam, selamat pagi juga, silahkan masuk.” Sahut seorang wanita yang duduk paling depan sambil melontarkan senyuman.
“kamu jurusan PG-SD juga?.” Tanyanya tanpa tahu siapa orang tersebut.
“Iii..yyaa..” indah menjawab dengan kondisi masih kebingungan dan gugup.
“ohh.. berarti kita satu jurusan dong. Perkenalkan namaku Rahma Nissa sering di panggil nissa, asal dari Palembang.” Sambil mengulurkan tangan kepada indah.
“Iya. Nama saya Indah Khairunisa dari Cilegon, Banten.” Mengulurkan tangan dan menjabat tangan wanita yang beberapa detik yang lalu ia kenal.
Sejak perkenalan itu, indah dan Muti selalu bersama-sama, entah itu pergi ke kantin ke masjid maupun pulang kuliah. Muti selalu menjadi teman curhat indah, tempat keluh kesah dan teman berbagi ilmu. Hingga suatu ketika Muti mengajak indah untuk pergi ke rumahnya, indah pun menerima ajakannya.
“Assalamualaikum mama, Nissa bawa teman nih!.” Teriak Muti di depan rumah sambil membuka pintu.
“Ayo masuk Indah!!!.” Aku begitu cangung masuk perlahan.
“Nissa, kamu bawa siapa? Indah ya??”. Suara halus dan lembut terdengar dari dapur.
“Iya Indah Ma.” Sahut Nissa yang masih membersihkan kamarnya.
Nissa yang sibuk di kamar dan Mama Nissa yang sibuk di dapur menyuruh indah duduk di kursi tamu yang empuk. Indah hanya melongo duduk di kursi tamu, menoleh ke kiri dan ke kanan. Terlihat sebuah foto keluarga Nissa yang terpampang di dinding ruang tamu, sangat indah dipandang begitu harmonis dan hangat.
Melihat foto itu membuatnya meneteskan air mata karena teringat akan Ayah, Ibu dan adikku yang selalu menyemangati jauh di kampung sana. Tetes demi tetes mengalir perlahan dari mataku, entah itu karena aku sangat merindukan mereka atau iri dengan keluarga Nissa yang harmonis ini.
Walaupun Ayah dan Ibu masih ada, mereka berpisah ketika indah masih SMA karena perselingkuhan Ayah. Saat itu aku terpuruk dan tak ada semangat hidup. Sempatku berfikir untuk tidak melanjutkan kuliah karena masalah keluarga yang makin memburuk, bisnis keluarga bangkrut, Ibu kecewa hingga ingin bunuh diri.
Ketika di hari ulang tahunku yang ke-17 tahun, aku mendapatkan hadiah yang sangat mengecewakan bagiku. Walaupun Ibu masih mengingat hari ulang tahunku, tetapi terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Ayah yang pergi meninggalkan kami saat itu.
Tetapi suatu ketika, tiba-tiba Ayah datang dengan derai air mata, meminta maaf kepada Ibu dan Aku yang telah ditinggalkannya setahun ini. Ayah sangat bersalah saat itu, hanya kata maaf yang mampu Ayah ucapkan.
Masih teguh pendiriannya yang tidak ingin menerima kembali ayah lagi karena telah dikecewakan, tetapi aku memiliki persyaratkan pada Ibu. Jika Ayah dan Ibu tidak bersatu aku tidak akan lanjut kuliah. Muka marah Ibu semakin menjadi-jadi setelah mendengar persyaratan dariku itu. Ibu hanya diam dan tak berbicara denganku selama seminggu.
Hingga suatu hari ibu mengiyakan rujukan dari Ayah, demi aku dan adikku.
“Jangan sampai Ayah mengecewakan aku untuk kedua kalinya, ini aku lakukan hanya untuk kebahagiaan keluarga kita. jika hal itu terjadi lagi maka tidak akan pernah sedikitpun kubiarkan kamu menemui anak kita”
Terlihat jelas senyum bahagia dari Ayahku yang memeluk aku dan adikku. Perjanjian itu sampai sekarang tidak dilanggar Ayahku.
Tangisan ini hanya pelampiasanku teringantakan masa laluku. Air mata yang telah membengkakkan mataku kini telah kuhapus dan membuat semangat baru. Aku akan bersungguh-sungguh menuntun ilmu demi keluargaku yang jauh di sana.
Rindu yang selama ini kutahan dengan tangisan, sebagai penawar yang ampuh bagiku saat ini. Suara Ayah, Ibu dan adik lewat telepon membuat segala yang kulakukan terasa ringan dan mudah.
"Semua ini kulakukan untuk kebahagiaan ayah, ibu dan juga adik. Aku selalu ingat semua janjiku yang harus bisa membahagiakan keluargaku". Ucapnya dalam hati dengan mulut tercekat menahan perih tangisan.

4 Comments
Bagusss :)
BalasHapusikuti blog kami ya untuk postingan selanjutnya
HapusNice story, ditunggu bw dan following ke blog ku jugaa
BalasHapusNgebayang itu aku pas baca story-nya
BalasHapuskeren..
Blogwalking juga ke blogku :)